Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Akhirnya Aku Mengerti

Hei, betapa beraninya pria ini. Datang secara tiba-tiba dalam hidupku dan mencuri hatiku tanpa ampun sedikitpun. Dia biarkan aku meradang, dalam suatu perasaan yang bahkan tidak pernah mampu menembus hatiku selama ini. Perasaan bodoh yang kuanggap kekanak-kanakan yang mungkin hanya dimiliki anak kecil. Perasaan gila yang kuanggap tidak normal, membayangkan sesuatu yang tidak pernah ada. Membayangkan dia di setiap sudut pikiran, membunuh setiap ambisi dan usahaku selama ini yang mungkin batu saja tidak mampu memecahkannya. Lalu ini apa? Bodoh!
Aku bahkan tidak mampu mengusir bayang-bayangnya, membuatku hampir mati. Setiap ambisi yang coba kubangkitkan selalu berhasil digagalkan oleh bayangnya, dan perasaan takut akan kehilangan. Bodoh! Aku tidak pernah mencoba menumbuhkan rasa ini, aku bahkan sudah berkali-kali membunuhnya, tapi rasa ini terus tumbuh seolah pohon liar yang mampu tumbuh sangat besar meski tak ada yang menyiram dan merawatnya. semakin lama semakin berat dan begitu banyak amunisi yang kubutuhkan untuk menebang dan memusnahkannya.
Ini seolah-olah mimpi, tapi apakah mimpi ini akan membunuh impian yang coba kuhidupkan? Aku tidak bisa terus menerus seperti ini. menjadi semakin gila dengan khayalan-khayalan bodoh yang tak berakhir,
Mungkin aku tak perlu berusaha membunuhnya, biarkan tumbuh dan tumbuh semakin besar aku tak peduli. aku harus tetap berjalan dengan atau tanpanya. Tidak-tidak, aku tidak membunuhnya. Aku hanya berusaha berjalan sejauh mungkin dan meninggalkan perasaan ini sejauh ungkn di belakang. Dia, tetap dalam pikiran dan hatiku. Bukankah ini adalah haknya untuk tinggal atau pergi, karena dia yang membuka, maka dialah yang memiliki hak kapan dia akan menutupnya.

MELUKIS BAYANGAN MAMA...

Jenar mengecek handphone untuk kesekian kalinya, dan layar handphone warna merah muda itu masih saja kosong. Tidak ada sms maupun miss call dari orang yang paling ia tunggu, papa. Iya, hari ini papa berencana pulang setelah sebulan bertugas di luar kota. Jenar sudah sangat rindu pada papanya, karena hanya papa yang selalu ada untuk Jenar. Di usianya yang sudah hampir 21 tahun bahkan Jenar tidak tertarik untuk memiliki hubungan spesial dengan kekasih ataupun teman dekat pria. Alasannya hanya satu, ia tidak ingin meninggalkan papa yang memang sudah hidup sendiri sejak Jenar masih bayi. Jenar bahkan tidak pernah melihat sosok mama yang telah melahirkannya. Ia hanya tahu satu hal, pastilah mama meninggalkan papa, dan tentu saja dirinya. Benci, iya hanyalah benci yang ada di dalam hati Jenar, tanpa pernah menanyakan cerita sebenarnya pada papanya.
Nada tanda sms berbunyi, buru-buru Jenar membukanya, "Jenar, yuk ntar malem ke kafe sendok. Daripada lu bengong sendirian, diajakin Gilang juga nih". Ah, kok bukan papa sih, batin Jenar. Memang harusnya malam ini

Sebuah Kehilangan..

Aku tidak pernah merasakan ada yang kurang dari hidupku. Bukan masalah harta atau hidup di keluarga yang berkecukupan. Melainkan segala nikmat yang Tuhan berikan padaku, meski tidak dengan uang. Aku sangat bahagia memiliki sebuah keluarga yang sangat - sangat menyayangiku. Kakek dan nenek yang masih lengkap dan selalu memanjakanku. Aku kecil sangat bahagia dan tidak pernah membayangkan akan suatu perasaan yang amat sakit.

Pesta untuk Siti

Temen-temen, cerita ini hanya fiktif ya. Jika ada kesamaan nama tokoh dan cerita, pasti hanya kebetulan :)


Malam makin larut, sudah tidak terdengar suara apapun lagi selain mp3 dari laptopku dan  tanganku yang makin lambat mengetik tugas makalahku. Aku masih penasaran dengan sosok pembantu baru yang kata mamaku anaknya mbok Inem, Siti namanya. Kata mama Siti anaknya seusia aku, hanya saja dia tidak meneruskan sekolahnya lagi. Maklum saja orang kampung dan karena keterbatasan biaya. Tapi, kata mama

up