Aku tidak pernah merasakan ada yang kurang dari hidupku. Bukan masalah harta atau hidup di keluarga yang berkecukupan. Melainkan segala nikmat yang Tuhan berikan padaku, meski tidak dengan uang. Aku sangat bahagia memiliki sebuah keluarga yang sangat - sangat menyayangiku. Kakek dan nenek yang masih lengkap dan selalu memanjakanku. Aku kecil sangat bahagia dan tidak pernah membayangkan akan suatu perasaan yang amat sakit.
Kehilangan, iya kehilangan.
Kurang lebih dua tahun lalu kakekku yang menderita penyakit stroke meninggal dunia. Tidak ada pertanda apapun dan awalnya tidak terjadi apapun pada kakekku. Namun hari sabtu ba'da maghrib, kakek terjatuh dan pembuluh darahnya pecah. Kakek terbaring di lantai dengan bersimbah darah dan terbatuk-batuk dengan sangat keras, darah keluar dan tidak mau berhenti. Secepat mungkin kakek dibawa oleh keluarga dengan mobil ambulance ke rumah sakit. Baru separuh perjalanan, kakek tidak sadarkan diri.
Aku tidak tahu, akan separah itu yang terjadi pada kakek. Setahuku mungkin hanya sakit ringan seperti yang terjadi setahun sebelumnya. Aku melihat kakek menangis saat aku berniat pulang dari rumah sakit. Aku mencium pipi beliau dan berkata, "Aku akan kesini lagi kek". Saat itu kakek masih bisa sembuh lagi seperti sedia kala.
Tangisku pecah ketika melihat kakek yang sudah tidak berdaya, tidak sadarkan diri. Hanya suara seperti dengkuran karena darah yang tidak berhenti keluar dari tenggorokan. Beliau, yang biasanya tertawa dengan tawa khasnya yang renyah, hanya diam saja. Nenek berkata,"Ini loh, kek. Cucu kita yang paling besar, sudah tumbuh cantik sekali." Tapi kakek hanya diam saja membuat air mataku makin deras. Aku tidak bisa bicara apa-apa, lidahku kelu, dadaku sesak, sakit sekali.
Tak lama kemudian, tanteku datang dan tak kalah kaget dariku. Dia menangis keras sekali, penuh penyesalan.
"Kamu harus minta maaf pada Bapak, kamu banyak salah pada beliau"kata ibuku. Tanteku menangis sambil memeluk kakekku. Tanteku memang sangat sering menyakiti hati kakek, tidak terhitung berapa kali, dan aku sangat merasakan hal itu.
Berjam-jam kami menangis, mendoakan, membacakan yasin. Aku pulang sekitar pukul 18.00, itupun dipaksa bersama tetanggaku. Sebelum pulang, aku sempat membisikkan kata-kata pada kakek.
"Kakek, cepat sembuh ya. Kita main sama-sama bareng adik. Ketawa bersama, nggendong adik, nyebokin juga. Kayak dulu."Aku cium pipi kakek, dan aku tidak tahu bahwa itu adalah ciuman terakhirku untuk kakek.
Aku hampir pingsan, ketika tahu sudah dipasang tenda dan terob seperti yang digunakan untuk memandikan jenazah. Awalnya tetanggaku menghibur dengan membawa kelinci anggora, aku bermain dengan kelinci itu dan tertawa terbahak-bahak. Tapi itu hanya pengalihan, dan tidak berarti apa-apa.
Aku benar-benar tidak pernah membayangkan akan kehilangan sosok kakekku yang selama ini menjadi dewa penolongku saat membuat tugas, yang mengajariku membaca untuk pertama kali, yang membelikan aku mainan, majalah, yang sangat memanjakanku. Tapi, memang tidak mungkin jika aku akan selamanya hidup bersama kakek. Tak selamanya kakek akan mendampingiku. Setelah kakek tidak ada, aku tinggal bersama nenek, selama kurang lebih satu tahun.
Aku jadi mengerti, semua yang hidup akan mati. Berada di titik aman dalam dekapan keluarga bukan jalan yang terbaik. Kita harus sadar dan tahu, bahwa suatu saat kita akan kehilangan mereka. Dalam proses itu, kita harus mempersiapkan diri dan jangan pernah menyalahi takdir Tuhan.
.jpg)
0 komentar:
Post a Comment