Zahra
mengobrak-abrik tasnya untuk mencari benda kecil yang sangat berarti baginya.
Benda yang setiap hari selalu menemaninya kemanapun dia pergi, Handphone.
Maklum saja, Zahra selalu membawa benda yang merupakan benda paling berharga baginya
itu. Meskipun Zahra sama dengan remaja seusianya yang suka mengotak-atik gadget,
ia termasuk gadis remaja yang Islami dan patuh pada agama. Meskipun bukanlah
lulusan pondok pesantren, namun akhlak Zahra tergolong baik.
“Ya
Allah, kemana ya handphone ku. Perasaan selalu di tas, apa mungkin kebawa
Alin?”Zahra mulai memencet tombol angka telepon rumah Alin.
“Assalamualaikum,”terdengar
suara lembut Alin dari jauh.
“Wa’alaikum
salam, kebetulan kamu yang angkat Alin. Kamu tahu Handphoneku nggak? Aku lupa nih
ada dimana.”
“Ah,
enggak Zah. Paling kamu lupa naruhnya, atau mungkin ketinggalan di ruang
organisasi.”
“Tapi
kok kayaknya enggak. Tadi kan udah aku bawa, tapi aku lupa terakhir aku taruh
dimana.”Zahra mulai mengingat-ingat yang terjadi sebelumnya. Memang tidak
mungkin ketinggalan di kampus, karena Zahra tidak pernah melupakan benda satu
itu kemanapun dia pergi.
“Oh,
apa mungkin diambil si Willy? Dia kan sukanya ngusilin kamu, masa kamu malah
kepikiran aku. Harusnya kan dia yang kamu curigai.”
“Tapi
masa iya sih dia ngambil hpku?”
“Kamu
ini kayak nggak kenal Willy aja, dia kan masih ngekorin kamu terus. Haha
makanya kamu terima aja cinta dia.”kata Alin menggoda Zahra.
“Udah
deh Lin, jangan mulai lagi. Kamu kan tahu keadaan aku gimana. Nggak mungkin aku
mau sama Willy. Lagian aku juga nggak ada rasa kok sama dia.”
“Hehe
iya iya Zahra cantik. Aku tahu kok kamu juga udah punya ta’arufan, ustad lagi.
Tapi kamu kan juga sebenernya masih bimbang kan sama Pak Ustad itu.”
“Iya
sih, tapi setidaknya pilihan orang tuaku pasti yang terbaik kan. Eh udah ya,
malah jadi curhat gini, aku mau telpon hpku aja deh biar jelas. Dahh,
Assalamu’alaikum..”
“Oke
deh, Wa’alaikum salam..”
Zahra
mulai memencet tombol nomor hpnya, terdengar bunyi tanda panggilannya berhasil.
Beberapa saat kemudian diangkat..
“Hallo..”benar
saja, hpnya memang dibawa oleh Willy.
“Kok
hpku bisa ada di kamu Will? Balikin sekarang!”
“Eh,
sabar dong nona manis. Masa nona manis emosian, tenang dong. Aku Cuma mau
pinjem bentar aja masa nggak boleh, makanya aku ambil aja deh”
“Kamu
ini ya, mahasiswa tingkat akhir jurusan komunikasi tapi tidak tahu arti dan
pentingnya privasi. Hello, apa mungkin karena jurusan komunikasi makanya kamu
suka kepo dan nantinya hasil kepomu itu dikomunikasiin ke orang?”Zahra mulai
geram.
“Maaf
ya Ibu mahasiswa tingkat akhir jurusan sastra Indonesia yang terhormat. Saya
bukan orang yang seperti itu. Saya hanya ingin mengajak ibu makan malam di
cafenoura nanti jam 7. Jadi mohon datang jika ibu mau hp ibu saya
kembalikan.”dan telepon langsung diputus begitu saja.
Willy,
nama lengkapnya Egi William Handoko. Ia adalah laki-laki yang telah memendam
rasa pada Zahra selama bertahun-tahun dan sudah beberapa kali menyatakan cinta
pada gadis itu. Tapi beberapa kali pula cintanya ditolak. Willi memiliki wajah
yang tampan dan badan atletis, banyak gadis yang tergila-gila padanya, tapi
cintanya tentu saja hanya untuk Zahra. Meski Willy adalah lelaki yang nyaris
sempurna, namun tidak membuat Zahra goyah. Terlebih melihat kenyataan bahwa
Willy adalah protestan yang taat, makin tidak mungkin Zahra menerima cintanya.
Waktu
menunjukkan pukul 7 malam saat Zahra memasuki kafenoura dan mencari-cari Willy.
Willy pun melambaikan tangan dan memanggil-manggil Zahra.
“Hello
nona manis, silahkan duduk.”sapa Willy dengan senyum sumringah.
“Heleh,
basa-basi. Udah mana HPku?”Tanya Zahra ketus.
“Udah,
makan dulu nanti aku kembaliin.”
Mau
tidak mau Zahra pun menuruti keinginan Willy, sepanjang makan Willy terus saja
mengajaknya bicara dan ia hanya membalas dengan jawaban yang singkat. Sampai
akhirnya untuk kesekiian kalinya Willy menyatakan perasaannya pada Zahra.
“Sudahlah
Will, kita masih bisa berteman. Aku nggak mungkin bisa nerima cinta kamu. Meski
kamu pupuk hatiku dengan cintamu sampai kapanpun, benih yang kamu tanam tidak
akan tumbuh. Tidak akan pernah ada cinta buat kamu. Aku minta maaf Will.”
“Kenapa?
Masalah keyakinan? Kenapa kamu begitu memikirkan hal itu? Kita kan bisa jalani
ini dulu, jangan pikirkan masalah itu. Kita bisa cari jalan keluar bersama.”
“Maaf
Will, bukan masalah itu. Ada hal yang kamu nggak tahu selama ini, bahwa aku
udah punya calon suami. Dia sudah meng’khitbah aku, dan mungkin sudah tidak ada
kesempatan buat kamu. Jadi aku mohon, kamu lupakan aku.”akhirnya Zahra merasa
perlu memberi tahu Willy tentang hal itu.
“Kamu
bercanda kan Zah?”Willy masih tidak percaya.
“Willy,
udahlah. Kamu tampan, kamu kaya, banyak yang mau dan menunggu cintamu. Jangan
kamu sia-siain waktu kamu Cuma buat aku. Udah sini HPku, aku mau pulang.”Zahra
langsung berlari keluar dari kafe setelah mengambil HPnya dari tangan Willy.
***
Hari
ini adalah hari wisuda bagi Zahra dan mungkin ia juga akan segera dipinang oleh
Ustad Rizal. Zahra memakai kebaya warna hijau dan terlihat sangat cantik. Usai
wisuda ia berfoto dengan Alin, Willy, dan teman-temannya. Tentu saja Ustad
Rizal dan keluarganya juga datang untuk memberi selamat pada Zahra yang lulus
dengan predikat kumlaud itu. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa
masih sangat bimbang dan belum siap untuk menikah. Terlebih usianya baru akan
berjalan 22 tahun. Namun, memiliki suami yang baik agamanya tentu merupakan impian
setiap gadis sehingga ia merasa tidak perlu lagi menunda rencana baik ini.
Ustad
Rizal adalah anak dari teman ayah Zahra. Ia masih ingat saat ayah mengenalkan
mereka berdua, saat acara ulang tahun Zahra yang ke 20. Saat itu, usia ustad
Rizal sudah 25 tahun. Setelah kenal, seminggu kemudian Ustad Rizal meng’khitbah
Zahra dan berencana menikahinya selepas Zahra Wisuda.
“Assalamu’alaikum..”Suara
lembut seseorang membuyarkan lamunan Zahra.
“Wa’alaikum
salam.. Ustad Rizal. Kapan Ustad datang?”
“Baru
saja, kenapa adik melamun? Sedang memikirkan apa?”
“Tidak
kok, Cuma berpikir bahwa ternyata saya sudah wisuda dan saya berniat mengajukan
rancangan novel yang saya buat. Ustad mau baca? Siapa tahu Ustad suka, atau ada
yang bisa Ustad komentari.”Zahra begitu antusias dan berniat mengambil
laptopnya.
“Nggak
usah dik, pasti bagus kok. Tapi dik, sebenarnya saya tidak mau setelah menikah
nanti adik punya kesibukan lain yang bisa mengganggu tugas dan tanggung jawab
adik sebagai seorang istri. Saya lebih suka adik focus pada tugas dan
mencurahkan seluruh perhatian adik pada saya dan anak-anak saya kelak.”ucapan
Ustad Rizal membuat Zahra sangat kecewa. Apa mungkin Zahra akan mampu mengikuti
keinginan calon suaminya itu? Tapi memang sangat terlambat untuk memutuskan
hubungan disaat hari pernikahan sudah semakin dekat. Ia hanya tersenyum, dan
tak lama kemudian Ustad Rizal pamit pulang.
Sore
ini Zahra berniat ke danau dekat rumahnya dengan membawa laptop. Dari kejauhan
ia melihat ada seseorang yang sedang duduk di bangku tempat ia biasa menyendiri
saat sedang bimbang. Dan hari ini ia merasa perlu memantapkan hati untuk
menikah dengan Ustad Rizal dan membunuh impiannya jika memang ia memutuskan
untuk menikah dengan Ustad Rizal.
Ia
makin mendekat pada bangku itu dan ia mendengar suara merdu seseorang yang
sedang membaca Al-Qur’an. Sejenak Zahra terkesima, dan langkahnya terhenti. Ia
kemudian duduk di samping pria itu. Pria itu menghentikan bacaannya.
“Maaf
mengganggu..”
“Tidak
apa-apa mbak. Saya juga sudah selesai kok, ternyata duduk di sini enak juga
ya.”ujarnya dengan senyum manis.
“Iya,
saya juga sering duduk di sini. Maaf, anda ini Ustad ya?”Zahra memberanikan
diri bertanya seraya membuka laptopnya.
“Bukan
kok, saya hanyalah hamba Allah yang selalu mencoba belajar menjadi lebih
baik.”jawabannya begitu indah, dan Zahra begitu terpesona oleh tutur kata orang
ini.”Mbak sedang apa?”
“Oh,
ini saya sedang melihat lagi rancangan novel yang ingin saya bawa ke penerbit.”
“Kalau
boleh tahu, tentang apa ya ceritanya?”
“Jadi
ini tentang perjalanan seseorang dalam mencari kebenaran hidup. Seseorang yang
dibesarkan di panti asuhan dan ingin mencari orang tuanya yang kabarnya ada di
Prancis.”
Lelaki
itu tersenyum,”Bagus, tapi apa mbak tidak kesulitan menggambarkan keadaan kota
Paris. Ya kan, itu bukan tempat mbak sendiri.”
“Dulu
saya sudah pernah tinggal di Perancis selama beberapa tahun, jadi sudah tidak
terlalu kesulitan menggambarkannya.”
“Oh,
begitu. Kalau begitu saya tunggu novelnya, pasti akan jadi novel yang
laris.”ucap lelaki itu lagi-lagi dengan senyuman yang manis.”Oh iya, mbak ini
setiap hari kesini ya?”
“Tidak
juga, saya kesini kalau hati saya sedang tidak enak. Kadang kita juga butuh
menyendiri saat hati ditimpa gundah gulana.”
“Kalau
begitu, besok kesini lagi saja. Kita masih bisa bertemu lagi kan?”Tanya lelaki
itu membuat Zahra sedikit kaget.
“Oh,
iya Insya Allah. Saya pamit dulu ya,”
“Iya,
maaf kalau boleh tahu siapa nama mbak?”
Zahra
menoleh,”Zahra..”
“Saya
Muhammad”
Begitulah,
hari berikutnya mereka pun bertemu kembali. Tanpa Zahra sadari hari
pernikahannya makin dekat dan ia sama sekali belum menceritakan hal ini pada
lelaki itu. Bahkan Zahra merasakan ada sesuatu perasaan yang tidak pernah ia
rasakan sebelumnya, perasaan yang membuatnya selalu memikirkan seorang yang
bernama Muhammad itu. Perasaan Cinta. Namun semakin Zahra merasakannya, ia
makin merasa bersalah telah melupakan calon suaminya itu. Perasaan berdosa
makin menghantui dan menggerayanginya. Maka hari ini ia memutuskan untuk tidak
menemui lelaki itu. Malam ini, tepat malam pacar sehari sebelum ia menikah.
Begitu
banyak orang yang datang, wanita tentu saja. Bahkan ayah Zahra pun tidak boleh
ikut dalam malam yang sacral ini. Tangan Zahra dilukis pertanda ia telah
dimiliki oleh seseorang.
“Zahra,
Bunda tidak menyangka kamu lusa akan menikah nak.”ujar Bunda Zahra sambal
memeluknya.
“Kak
Zahra, ada Kak Willy tuh di depan.” Liza, adik Zahra berlari dari depan rumah.
“Oh,
iya Dik.”Zahra menuju ke depan rumah.”Ada apa Will?”
“Selamat
ya, Zahra. Selamat karena kamu sudah membuat hatiku sakit. Tapi apa kamu akan
bahagia dengan orang itu?”
“Pasti,
dan aku yakin itu Will. Aku harap kamu mengerti dan ikhlas.”Zahra berbicara
dengan menunduk. Tiba-tiba Willy menarik mencoba membawa Zahra pergi. Zahra
mencoba melepaskan diri dan berteriak sejadinya. Bunda Zahra melihat dan
menarik Zahra dari Willy.
“Zahra,
kamu akan menyesal Zahra! Kamu akan menyesal!”Willy berteriak dan pergi dari
rumah Zahra.
“Nak,
kamu tidak apa-apa nak? Tenang Zahra, dia tidak akan berani melakukan
apapun.”Ibunda Zahra mencoba menenangkan Zahra yang terus-terusan menangis.
Semalaman Zahra menangis hingga tertidur di pangkuan bundanya.
***
Hari
ini keluarga Zahra sibuk mempersiapkan pengajian sebelum pernikahan. Dekorasi
sudah dipasang serba putih dengan dekorasi Bunga mawar merah, indah sekali.
Ayah Zahra juga terlihat sangat antusias dalam mempersiapkan pernikahan putri
pertamanya itu. Zahra duduk di depan rumah ditemani sahabatnya, Alin.
“Kok
Willy tega-teganya ya bicara seperti itu? Aku pikir cintanya sama kamu itu
tulus Zah, ternyata nafsu juga yang bicara. Kamu yang sabar ya, dia nggak
mungkin berani berbuat apa-apa kok sama kamu.”Alin memeluk sahabatnya itu.
Tiba-tiba
terdengar suara teriakan dari arah luar,”Pak, Buk! Bus rombongan pengantin
laki-laki masuk jurang! Bus rombongan laki-laki masuk jurang!”
Seketika
Zahra kaget dan menangis, iapun pingsan. Para tamu yang datang menolong Zahra
dan membawanya ke dalam. Ayah dan Bunda Zahra merasa sangat sedih melihat nasib
yang harus dirasakan putri tercintanya ini. Tak berapa lama, Zahra sadar.
Ibundanya memeluk Zahra dan mencoba menenangkan putrinya, namun tangis Zahra
tak berhenti juga. Dalam hati Zahra tahu dan sangat yakin siapa penyebab ini
semua.
***
To be continued..
0 komentar:
Post a Comment