Temen-temen, cerita ini hanya fiktif ya. Jika ada kesamaan nama tokoh dan cerita, pasti hanya kebetulan :)
Malam makin larut, sudah tidak terdengar suara apapun lagi selain mp3 dari laptopku dan tanganku yang makin lambat mengetik tugas makalahku. Aku masih penasaran dengan sosok pembantu baru yang kata mamaku anaknya mbok Inem, Siti namanya. Kata mama Siti anaknya seusia aku, hanya saja dia tidak meneruskan sekolahnya lagi. Maklum saja orang kampung dan karena keterbatasan biaya. Tapi, kata mama
dia memang sudah tidak mau bersekolah lagi, capek katanya harus mikir, lebih baik kerja yang tanpa mikir tapi dapat bayaran. Lama-kelamaan jari-jariku capek juga, dan mata ini sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Makin tidak sadar dan akhirnya aku tertidur di tengah malam yang sunyi.
Malam makin larut, sudah tidak terdengar suara apapun lagi selain mp3 dari laptopku dan tanganku yang makin lambat mengetik tugas makalahku. Aku masih penasaran dengan sosok pembantu baru yang kata mamaku anaknya mbok Inem, Siti namanya. Kata mama Siti anaknya seusia aku, hanya saja dia tidak meneruskan sekolahnya lagi. Maklum saja orang kampung dan karena keterbatasan biaya. Tapi, kata mama
dia memang sudah tidak mau bersekolah lagi, capek katanya harus mikir, lebih baik kerja yang tanpa mikir tapi dapat bayaran. Lama-kelamaan jari-jariku capek juga, dan mata ini sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Makin tidak sadar dan akhirnya aku tertidur di tengah malam yang sunyi.
***
Suara ayam
jago Pak Tarno, tetangga sebelah yang sering aku panggil Pak Dalang membangunkan
aku dari mimpi presentasi Bu Dian, dan..
“Astaga, aku
kesiangan!”aku meloncat seketika dari atas tempat tidur dan menuju kamar mandi.
Tidak berniat mandi, hanya ganti baju seragam dan menuju ruang makan untuk
mengambil beberapa roti saja. Aku melihat mama dan Mbok Inah sedang menyiapkan
meja makan. Papa belum kelihatan, ya mungkin sudah berangkat pagi-pagi untuk
meeting. Tapi aku melihat sosok yang asing, tidak tahu siapa dia. Wajah cantik
dengan rambut ikal diikat dua ala anak desa. Siapa ya dia? Ah, aku tahu..
“Siti ya?”aku
menebak-nebak.
“Iya neng,
Neng Adis ya? Mari neng sarapan dulu.”jawabnya halus dan ramah.
“Ah, nggak Siti.
Aku mau cepet-cepet berangkat, ada presentasi penting nih. Ma, berangkat
ya..”pamitku seraya mencium pipi mama dan nyelonong keluar.
“Eh, Adis!
Nggak sarapan dulu nak?”suara mama dari kejauhan tak kuhiraukan.
Presentasi Bu
Dian berjalan sukses, dan aku cukup puas dengan hasilnya. Sore ini, aku berniat
mengajak Siti jalan-jalan ke mall atau Cuma sekedar nonton bioskop. Aku yakin
dia pasti senang, yah maklum di kampungnya kan tidak ada yang seperti itu.
Mobilku sudah
sampai di depan gerbang rumah dan pak Diman, satpam rumahku membukakan pintu.
Setelah memarkir mobil di garasi, aku berniat langsung masuk ke dalam rumah dan
mencari Siti untuk kuajak pergi jalan-jalan. Aku lihat Siti sedang
bersih-bersih ruang tamu. Rajin juga dia, kataku dalam hati. Aku hanya berdiri
dan melihat Siti bekerja, rupanya ia menyadari dan menghentikan kerjanya.
“Neng Adis,
baru pulang ya neng? Makan siangnya sudah siap neng, atau mau lauk yang lain?
Saya buatkan dulu.”
“Haduh, Siti.
Jangan terlalu rajin deh, ayo temenin aku jalan-jalan ke mall. Biar kamu juga
nggak sumpek di rumah terus, kerja sana kerja sini. Ya?”kataku sambil memegang
tangan Siti.
“Ah, neng
Adis ini. Pembantu seperti saya kok diajak ke mall. Enggak cocok neng.”Siti
agak takut dan malu.
“Aduh, Siti
ayo. Kan yang ngajak aku, mall itu bukan Cuma tempat orang kaya. Pembantu juga
bisa ke sana, udah lah aku mandi dulu ya. Kamu siap-siap dulu gih.”
Aku mandi dan
ganti baju, tak lupa aku pinjami Siti bajuku agar tidak terlalu aneh kalau ke
mall dengan pakaian yang jelek. Aku lihat Siti terlihat cantik dengan baju
warna pink dan celana panjang milikku.
“Ayo Siti,
berangkat.”
“Iya
neng.”jawab Siti, aku lihat dia agak tidak nyaman dengan pakaiannya.
Aku dan Siti
masuk ke dalam mobil dan aku pacu mobilku dengan santai menuju mall.
Sesampainya d mall, aku ajak Siti jalan-jalan dan menonton film.
“Nih, Siti
yang namanya mall. Gimana, bagus kan?”
“Iya neng, di
kampung ndak ada kayak gini neng. Wah, keren banget.”kata Siti dengan berdecak
kagum.
“Haha Siti..Siti..
Kamu ini lucu. Pernah dandan nggak?”aku bertanya karena melihat toko kosmetik
di depan kami.
“Ah, mbak
ini. Boro-boro dandan, pakai pakaian bagus aja belum pernah.”Siti menjawab
dengan amat lugu. Kasian juga aku pada gadis satu ini, terlintas pikiran untuk
mengajaknya ke salon dan sedikit merubah penampilannya. Yah, supaya tidak ndeso-ndeso amat.
“Ke salon
yuk, kita dandan.”
“Ah, neng
ini. Pembantu kok diajak ke salon. Ya nggak pantes lah non.”Siti terlihat agak
malu.
“Loh, memang
pembantu nggak boleh ke salon? Kan sama-sama manusia juga, lagian Siti
kadang-kadang kamu nggak boleh terlalu nerimo. Kamu juga harus berani minta
sesuatu yang kamu mau, nggak masalah kok.”aku mulai enjelaskan pada Siti. Bukan
apa-apa, tapi sikap nerimonya memang sudah tingkat akut.
“Oh, begitu
ya neng. Jadi sekali-kali tidak apa-apa?”Tanya Siti polos.
“Haha iya Siti”
Jadilah aku
dan Siti ke salon sore ini. Selain potong dan perawattan rambut aku ajak juga Siti
spa. Dia terlihat sangat senang dan bahagia juga hatiku melihat dia. Bahkan
ketika di mobil aku lihat sesekali Siti melirik ke kaca spion melihat wajah dan
tatanan baru rambutnya. Lumayan geli juga melihatnya.
Aku memarkir
mobil dan mengajak Siti masuk ke rumah. Mama terperangah melihat penampilan
baru Siti. Rambut yang tadinya diikat dua kini sudah terurai panjang, ditambah
dengan polesan make up tipis membuat Siti terlihat sangat manis.
“Ya ampun, Siti.
Kamu cantik sekali. Dari mana kamu?”mama terlihat terkesan, dia membelai rambut
Siti dengan lembut.
“Dari mall
ndoro, diajak neng Adis. Ini neng Adis malah ngajakin saya ke salon.”jawab Siti
lugu. Mama hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya ke arahku.
“Ayo Siti, ke
kamarku. Kita foto-foto, maklum habis dandan”aku menarik tangan Siti dan
mengajaknya ke kamar. Kami berfoto bersama, aku lihat Siti memang sedikit
canggung dan merasa aneh.
“Neng, itu
buku apa yang besar?”tiba-tiba Siti bertanya padaku.
“Oh, itu
album foto. Isinya foto pesta ulang tahunku kemarin. Kamu mau lihat?”Siti
menganggukkan kepala. Aku ambil album foto yang memang berukuran lumayan besar
itu. Siti membolak-balik album itu, sesekali aku lihat matanya berbinar tanda
kagum.
“Kenapa Siti?”
“Hebat sekali
neng pestanya. Ini dimana? Kok sepertinya bukan di rumah ini?”
“Itu di
Hotel, Siti. Maklum kan ulang tahun yang ketujuh belas. Jadi aku minta dirayain
di hotel. Baru aja,sebulan kemarin.”aku menjelaskan dan Siti mengangguk-angguk
pelan.
“Oh, jadi
kalau yang ketujuh belas harus dirayain ya neng?”pertanyaan Siti yang lugu
lumayan menggelitik juga bagiku.
“Ya nggak
harus sih Siti, tapi aku aja yang emang pengen dirayain. Kenapa emang?”
“Saya juga
mau pesta seperti ini neng. Bulan depan kan ulang tahun saya.”
“Maksud kamu,
Siti?”kaget sekali aku mendengar perkataan Siti.
“Ya saya juga
mau dirayakan, di gedung seperti ini neng.”
Ha? Gila ini
anak, tanpa sungkan dan canggung berani meminta dibuatkan pesta ulang tahun
yang terbilang besar.
“Siti, kamu
ngantuk ya? Apa kesambet? Udah kamu istirahat aja dulu, siapa tahu kamu
kecapekan gara-gara jalan-jalan tadi.”Aku mencoba menerangkan kalau dia memang
sedang tidak sadar meminta permintaan tadi.
Siti pamitan
dan keluar dari kamarku. Aku tidak habis pikir, berani-beraninya seorang anak
pembantu seperti dia meminta padaku untuk dibuatkan pesta di gedung. Siapa dia?
Apa iya, hanya gara-gara sekali aku ajak dia jalan-jalan lantas dia merasa
dsayang dan semua permntaannya akan dituruti? Benar-benar gila ini anak. Alisku
berkerut dan aku terus memikirkan si Siti sampaii aku ketiduran.
***
Pagi-pagi
sekali aku bangun dan bersiap mandi. Hari ini ada ulangan Pak Reno, guru fisika
yang super duper galak. Dan berita buruknya aku sama sekali belum belajar, jadi
berangkat pagi adalah solusi terbaik.
“Nak, nanti
kamu temenin Siti ya sayang..”kata mama di sela-sela sarapan.
“Kemana Ma?”jawabku
dengan mulut penuh roti isi.
“Itu, temenin
Siti cari baju buat pesta ulang tahun”
“Loh, memang
siapa yang mau ulang tahun ma? Ulang tahunku kan udah lewat.”
“Siti, sayang.
Bulan depan kan dia ulang tahun, Mama rencananya mau buat pesta kecil-kecilan
aja di rumah.”
“Ha? Mama
yakin?” aku tak habis pikir. Seorang anak pembantu dibuatkan pesta oleh
majikannya? “Enggak ma, Adis nggak setuju. Mama nggak boleh manjain anak
pembantu donk.”
“Tapi Adis…”belum
sempat mama meneruskan kata-katanya, aku langsung pergi dengan hati yang marah.
Gila, pikirku. Seorang anak pembantu dibuatkan pesta ulang tahun oleh majikan?
Memang ada sejarahnya?
Akhirnya aku
tidak peduli dan tidak tahu kelanjutan rencana mama. Aku bahkan tidak pernah
bicara pada mama beberapa hari ini. Aku hanya sbuk mengurusi tugas sekolah yang
makin menggunung seperti sekarang ini.
“Sayang..”suara
mama membuyarkan konsentrasiku. Aku hanya diam saja dan mama mendekatiku.
“Nak, Adis
marah sama Mama?”aku masih diam saja, “Kalau Adis marah, ya sudah mama batalkan
saja rencana pesta ulang tahun Siti.”
“Emang kenapa
sih mama mau bikin pesta buat Siti? Jangan-jangan Siti anaknya Mama ya?”
Mama
tersenyum, “Kamu ini terlalu banyak nonton sinetron ya. Adis tahu kan kalau
Mbok Inem sudah kerja disini sebelum kamu lahir?”
“Tahu, Ma.
Emang kenapa?”konsentrasiku mulai berpindah ke Mama.
“Dulu kamu
kan pernah sakit ginjal sayang.”
“Iya, Ma Adis
tahu. Waktu Adis masih 8 tahun kan.”
“Nah, waktu
itu Adis butuh transplantasi ginjal dan ginjal mama sama papa nggak ada yang
cocok, sayang. Mama dan Papa bingung waktu itu mencari donor ginjal. Dan kamu
tahu sayang, siapa yang cocok?”
“Siapa Ma?”tanyaku
penasaran.
“Mbok Inem yang
cocok dan dengan ikhlas memberikan satu ginjalnya untuk kamu, nak.”
Aku terdiam
dan tanpa sadar air mata menetes dari pipiku. Aku langsung memeluk Mama, dan
menangis.
“Maafin Adis,
Ma. Adis benar-benar egois.”
Aku langsung
berlari mencari Mbok Inah dan memeluknya erat.
“Loh, kenapa
Neng?”Mbok Inah bengong tanda kebingungan. Siti, yang berdiri di sampingnya juga
ikut bengong.
“Makasih,
Mbok. Makasih..”
Akupun
menyadari jika selama ini aku salah besar menentang rencana mama membuat pesta
untuk Siti. Maka untuk menebusnya, akulah yang paling sibuk mempersiapkan pesta
untuk Siti. Memilih baju, mencari kue ulang tahun, bahkan memilih catering aku
ikut serta. Aku juga mengundang teman-temanku untuk datang ke acara Siti.
***
Tibalah hari
ulang tahun Siti, para tamu juga sudah berdatangan. Papa belum pulang dari
dinas, jadi pesta ulang tahun Siti tanpa Papa. Siti tampak cantik dengan dress
warna pink selutut dan tanpa lengan. Rambutnya tergerai indah. Mbok Inem juga
tampil elegan dengan gamis barunya.
Siti meniup
lilin diiringi nyanyian seluruh tamu, teman-temanku pastinya. Ia tampak
bahagia, usai potong kue yang ia berikan padaku, ia memelukku dengan lembut.
Aku berbisik padanya, “Selamat Ulang tahun, Siti…”

0 komentar:
Post a Comment