Jenar mengecek handphone untuk kesekian kalinya, dan layar handphone warna merah muda itu masih saja kosong. Tidak ada sms maupun miss call dari orang yang paling ia tunggu, papa. Iya, hari ini papa berencana pulang setelah sebulan bertugas di luar kota. Jenar sudah sangat rindu pada papanya, karena hanya papa yang selalu ada untuk Jenar. Di usianya yang sudah hampir 21 tahun bahkan Jenar tidak tertarik untuk memiliki hubungan spesial dengan kekasih ataupun teman dekat pria. Alasannya hanya satu, ia tidak ingin meninggalkan papa yang memang sudah hidup sendiri sejak Jenar masih bayi. Jenar bahkan tidak pernah melihat sosok mama yang telah melahirkannya. Ia hanya tahu satu hal, pastilah mama meninggalkan papa, dan tentu saja dirinya. Benci, iya hanyalah benci yang ada di dalam hati Jenar, tanpa pernah menanyakan cerita sebenarnya pada papanya.
Nada tanda sms berbunyi, buru-buru Jenar membukanya, "Jenar, yuk ntar malem ke kafe sendok. Daripada lu bengong sendirian, diajakin Gilang juga nih". Ah, kok bukan papa sih, batin Jenar. Memang harusnya malam ini
ia pergi makan malam bersama papanya. Jenar mulai mengetik pesan balasan, "Duh, gue ada janji sama papa nih, ini juga masih nungguin papa pulang. Kalian berdua aja deh. Sorry ya Rin."
Suara klakson mobil di depan rumah mengagetkan Jenar yang masih terdiam menunggu. Tak perlu waktu lama untuknya mengira-ngira siapa yang datang. Jenar langsung berlari ke depan rumah dan ia langsung memeluk papa yang baru saja memarkir mobil di garasi.
"Hey, sayang kamu sudah lama menunggu papa ya? Maaf nak tadi handphone papa low bat.." Jenar tersenyum senang sebelum wajahnya tiba-tiba berubah saat melihat sosok wanita cantik paruh baya keluar dari mobil.
"I..itu siapa pa?"tanya Jenar bingung. Wanita itu sangat cantik, jika tidak salah sepenglihatan Jenar wanita itu berwajah blasteran bule. Terlihat dari rambutnya yang pirang. Baju dan rok hitam yang dipakainya semakin menandaskan kesan elegan pada kulit putihnya. Sekilas Jenar terpesona.
" Ehm, kenalkan nak ini Tante Laksmi, teman kerja papa." wanita itu tampak ramah saat Jenar menyalaminya.
"Jenar tante.." sapa Jenar pendek. Dalam hati Jenar curiga, tidak mungkin jika wanita itu hanyalah teman papa. Oke, mungkin bisa saja teman. Tapi jika bukan teman istimewa untuk apa papa membawanya ke rumah dan mengenalkannya pada anak semata wayangnya yang sangay dicintainya ini
"Nak, nanti malam jadi kan kita makan malam bareng? Kalau kamu tidak keberatan bolehkan tante Laksmi ikut ya."pinta papa.
" Eh, maaf ya pa. Jenar mau makan malem sama temen Jenar, udah janjian soalnya tadi."jawab Jenar sekenanya.
"Loh, bukannya kita sudah janjian dari kemarin ya? Yaudah tidak apa-apa nanti kamu pergi saja dengan temanmu."
"Iya pa, maaf ya" Jenar langsung pergi begitu saja. Dia langsung mengetik sms ke sahabatnya, rina."Rin, ntar malem aku ikutan. Tungguin ya."
Rina hampir tersedak saat mendengar cerita Jenar.
"Jadi kamu batalin janji sama papa kamu gara-gara ada tante-tante bula itu? Ya Allah Jenar emang kenapa? Kan kamu juga baru kenal sama tante bule itu."suara Rina terdengar nyaring si kafe itu, sehingga pengunjung lainnya hampir bersamaan menoleh ke mereka bertiga. Jenar hampir terkekeh melihat makanan yang masih menempel di pipi Rina saking dia bersemangat ngomong.
Di samping Rima ada Gilang yang hanya diam saja namun dalam hati menyimak cerita Jenar. Gilang memang terkesan cuek dan seperti tidak mempedulikan apa yang ada di sekitarnya. Bahkan menurut Rima pun meski bumi gonjang-ganjing Gilang akan jadi satu-satunya makhluk yang masih berdiri tegak dengan ekspresi datarnya. Namun, Gilang tidak pernah melewatkan satupun hal tentang Jenar. Gilanglah satu-satunya orang yang mempedulikan Jenar dalam kondisi apapun. Pernah suatu ketika Jenarbingung karena hujan deras dan pak man, supirnya tidak dapat menjemput Jenar sedangkan ayah masih bertugas keluar kota, gilanglah yang menjemput dengan merelakan seluruh badannya basah untuk Jenar.
"Masalahnya Rin, apa mungkin kalo tante bule itu cuma temen papa, papa berani bawa ke rumah. Pake dikenalin ke aku lagi.."
"Ya iya sih, tapi kenapa nggak kamu coba nerima niatan baik papa kamu. Kalaupun ada sesuatu yang spesial antara mereka juga nggak ada salahnya kan kamu mulai penjajakan sama tante bule itu."
"Tau ah Rin, kamu tu nggak ngerti kok. Aku nggakmau ada yang gantiin posisi mamaku. Mama ya mama, masak papa mau ngelupain mama gitu aja. Apalagi papa nyuruh aku besok buat nemenin tante bule itu pergi, ih ogah banget lah." Jenar mulai merajuk.
"Jenar, papamu udah hidup sendiri bertahun-tahun. Kamu gak kasihan apa liat papamu kesepian. Yah, mungkin papamu punya niat baik juga biar kamu nggak sendirian tiap papamu pergi keluar kota." Rina menasihati Jenar yang masih berdiam dengan bibir sedikit manyun. Jenar tidak menimpali apa-apa.
Gilang yang sedari tadi diam ikut bicara juga,"Udah Rin, Jenar mungkin masih belum bisa nerima aja. Udah dihabisin dulu makannya kalo mau ngomong ntar lagi disambung."
Gilang memang sangat tenang dalam menghadapi tingkah kedua sahabatnya itu, terutama Jenar. Gilang tahu betul bagaimana watak Jenar yang sedikit keras kepala meski umurnya sudah kepala dua. Kalau Jenar sudah mulai dengan sikapnya itu, Gilang akan membiarkan Jenar untuk diam dan berfikir baru ia akan memberi saran.
"Eh Nar, bentar lagi kan kamu ulang tahun. Gimana nih, ada bikin pesta nggak?"tanya Rina tiba-tiba.
" Nggaktau nih, aku lagi males bahas kayak gitu Rin. Aku pulang duluan aja deh yaa. Take care" Jenar langsung pergi meninggalkan kedua sahabatnya yang langsung berpandangan bingung.
Beberapa hari lagi ulang tahun Jenar yang ke 21. Biasanya saat Jenar ulang tahun papa akan membuatkan pesta seperti apapun yang Jenar suka. Pernah suatu ketika ulang tahun Jenar dirayakan di hotel dengan biaya yang cukup mahal. Jenar memang tidak pernah kekurangan kasih sayang meski ia hidup tanpa ibunya. Hal itu yang membuatnya merasa cukup hidup dengan papa saja. Jenar tidak pernah tahu bagaimana mamanya meninggalkan papanya, dan diapun juga tak pernah merasa ingin tahu, karena perasaanya yang sudah merasa bahagia. Jenar juga tidak pernah membutuhkan cinta dari pacar ataupun kekasih. Bahkan ia selalu menolak akan perasaannya yang sebenarnya telah tertambat pada satu orang yang sangat dekat dengannya, siapa lagi kalau bukan Gilang. Jenar tahu, sahabatnya satu itu juga telah menyukainya sejak lama. Tapi selama ini Jenar selalu menolaknya.
"Jenar, kamu sedang apa nak?" suara lembut seorang wanita membuyarkan lamunan Jenar. Jenar yang salah tingkah menjawab sekenanya,"Nggak lagi ngapa-ngapain tante" dalam hati Jenar sangat malas menanggapi wanita cantik itu.
"Kamu tadi sibuk ya? Tante kok nggak jadi diajak jalan-jalan?" basa-basi tante laksmi rupanya tidak menarik bagi Jenar sehingga Jenar memilih untuk menghindar,"Maaf tante , Jenar mau belajar dirumah Gilang"
Sudah beberapa hari Tante laksmi menginap dirumah Jenar dan berkali-kali mencoba mendekatkan diri padanya. Namun Jenar tidak pernah sekalipun memberi respon positif padanya. Bahkan saat makan malampun Jenar sering mendahului pergi ke kamar dengan alasan malas.
Hari ini adalah hari ulang tahun Jenar. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun inii Jenar tidak ingin ulang tahunnya dirayakan, ia malah meminta u tuk berlibur ke rumah tante yang di jawa barat. Jenar ingin mengajak kedua sahabatnya ikut, tetapi Rina tidak bisa karena dia pun juga ada acara ke rumah calon mertuanya. Untuk urusan cinta memang agaknya Rina lebih beruntung. Rina sudah punya pacar semenjak mereka masih duduk di bangku kelas 1 sma. Walaupun badan Rina memang lebuh 'subur' dibanding Jenar, namun pacar Rina selalu setia mendampinginya. Bahka. Mereka sudah merencanakan pernikahan dalam waktu dekat. Tentu saja Jenar tidak dapat memaksakan Rina untuk ikut, jadilah hanya Gilang yang ikut.
Udara kota bandung terasa sangat sejuk terutama karena rumah tante Jenar memang berada di pedesaan yang masih banyak sawah dan pepohonan. Kedatangan Jenar disambut hangat oleh Tantenya yang lamgsung mencium kedua pipi Jenar.
"Duh, ponakan tante makin cantik aja. Oh kamu sama Gilang ya? Apa kabar nak?"
"Baik Tante.." jawab Gilang singkat dengan senyum manisnya.
"Besok ikutan panen padi aja Nar, Lang. Kalau tambah kalian pasti jadi rame kan?" Jenar dan Gilang saling berpandangan dan tersenyum kecil. Tante Brian adalah adik dari mama Jenar, satu-satunya kerabat mama Jenar yang ia tahu. Tante Brian adalah orang yang mungkin tahu bagaimana cerita sebenarnya antara papa dan mama Jenar. Namun Jenar tidak tertarik untuk menanyakannya, setidaknya untuk saat ini. Tapi malam ini Gilang merubah pikiran Jenar..
"Jenar, kamu pasti ngerasa damai disini." Gilang mengawali pembicaraan saat mereka berdua duduk di teras rumah yang langsung menghadap sawah itu. Wajah Gilang terlihat tampan dengan hidung mancungnya.
"Iya Lang, aku malah kadang pengen banget bisa hidup sama papa disini. Tenang dan nggak ditinggal-tinggal terus. Biarpun hidup sederhana juga aku mau asal papa nggak pergi-pergi terus."
"Nar, apa kamu nggak bisa lepas dari sosok papamu ya? Maksudku kamu nggakbisa memikirkan masa depanmu sendiri? Sedikit lebih mandiri." Gilang memandang wajah Jenar.
"Aku sayang banget sama papa Lang. Kamu tau itu kan? Aku mau terus sama papa, aku nggak bisa bayangin kalo tanpa papa. Dari kecil aku cuma tahu satu orang di dunia ini yang sangat sayang sama aku, ya papa.." mata Jenar mulai berkaca-kaca."Aku sangat terbiasa hidup tanpa sosok mama, dan sangat terbiasa dengan papa. Hanya hidup sesimpel itupun aku udah bahagia lang."
Gilang memegang tangan Jenar,"Cobalah Nar, sekali saja keluarlah dari zona nyamanmu. Keluarlah dari rasa takutmu untuk tahu kebenaran. Mungkin memang kebenaran itu akan menyakitkanmu, tapi dengan tahu kebenaran kamu akan lebih lega dan tidak bertanya-tanya. Mungkin kamu juga akan memberi kesempatan pada tante laksmi kan? Siapa tahu?"
Jenar diam saja, air matanya mulai mengalir dan ia menggenggam tangan Gilang erat.
"Aku selalu disini Nar. Bakalan selalu ada di samping kamu apapun yang terjadi." Gilang menatap mata Jenar dengan tatapan lembut namun tajam.
"Entahlah.." Jawab Jenar singkat. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Gilang dam memejamkan matanya di keheningan malam.
Pagi ini udara sangat segar, sinar matahari yang pelan-pelan mulai memanas menghangatkan badan di tengah dingin desa. Matahari jika masih pagi masih sangat hangat, dan inilah yang paling Jenar suka ketika di rumah tante Brian, ikut memanen padi. Gilangpun sudah siap dengan sabit dan memakai baju pendek ala bapak bapak tani. Lucu sekali..
Anak-anak kecil pun juga ikut berlarian. Bahkan Gilang sampai dikejar-kejal sampai terjatuh di lumpur. Jenar melihat dengan terkekeh geli. Tante Brian sedang duduk di pematang saat Jenar mendekatinya dan menanyakan hal yang membuatnya terdiam agak lama.
"Tante.. Sebenarnya mama kemana selama ini?"
"Mamamu sudah meninggal sekarang nak. Tapi.."tante Brian terlihat menahan sesuatu.
"Tapi kenapa tante? Jenar sekarang ingin tahu cerita yang sebenarnya."
"Dulu mamamu dijodohkan dengan papamu saat masih berusaia 18 tahun dan papamu sudah berusia 30 tahun. Mamamu sama sekali tidak mencintai papamu, tapi kakekmu adalah sosok yang sangat galak dan tidak dapat dilawan apapun pendapatnya harus diikuti. Akhirnya mamamu mau dijodohkan. Kakekmu berfikir mungkin dengan berjalannya waktu mamamu akan mencintau papamu, tapi ternyata tidak." Tante Brian menghentikan sejenak ceritanya dengan mata berkaca-kaca. Sejenak ia tersenyum melihat polah Gilang dan anak-anak desa bercanda.
"Bahkan mamamu jatuh cinta pada seorang pria. Awalnya mamamu tidak mau menerima cinta pria itu, tetapi lama kelamaan mamamu tidak kuat dan pergi meninggalkan papamu. Tante sempat melihat papamu untuk pertama kalinya menangis. Tante tahu betapa papamu sangat mencintai mamamu, tante juga sangat salut melihat pengorbanan papamu yang merelakan mamamu pergi bersama pria lain demi kebahagiaan orang yang dicintainya. Jenar, apapun alasannya kamu tidak boleh membenci mamamu. Dan yang lebih penting pikirkan juga kebahagiaan papamu. Sudah berpulun tahun papamu memendam rasa sakit. Jangan bebani pikiran papamu dengan hatimu yang tertutup. Tante tahu ini berat, tapi hadapilab kenyataan dan carilah kebahagiaanmu nak."
Lidah Jenar kelu, ia hanya bisa menangis di pelukan tante Brian. Ia tau selama ini ia begitu egois telah memaksakan papa untuknya, tanpa memikirkan betapa sakitnya hati papa.
"Tante, terima kasih sudah menceritakan ini sama Jenar.. Jenar janji Jenar akan membuat papa bahagia" Jenar melepaskan pelukannya pada tante Brian dan menghambur ke pelukan Gilang. Jenar membisikan,"Aku juga akan selalu ada di sampingmu Gilang.." pelukan Jenar pada Gilang membuat anak-anak desa itu bersorak.
Dalam hati Jenar berkata, aku akan mencoba melukis bayang mama di dalam diri tante bule..
1 komentar:
uyeee panjangnya
Post a Comment