Jadi ceritanya beberapa hari ini aku sering bermain game the sims. Tahu kan gamenya? Iya, game simulator kehidupan dimana kita bisa membuat dan menjalankan sebuah kehidupan. Bekerja, memasak, tidur, mandi, berkeluarga sampai punya anak pun bisa, bahkan kalau mau punya anak kembar juga bisa. Ajaib ya! Kadang aku berpikir kenapa konsep kota di the sims tidak
dijalankan saja di kehidupan nyata ya? Yuk mari kita berimajinasi sejenak (gaya spongebob, imajinasi..). Maaf jika imajinasi ini sedikit ironis.
Jadi kota di the sims itu terdiri dari satu walikota, berbagai macam penduduk dan beb agak macam tipe rumah. Oke, yang ini sama. Tapi yang membedakan adalah, di the sims semua pekerjaan dibayar perjam. Wah kebayang dong kalo kayak begini pasti di kota-kota bakalan jarang pengemis berkeliaran. Bahkan yang hanya kerja di pusat belanja saja gajinya juga perjam. Wah! Kemudian, semua servis dari tukang bersih-bersih, babysitter, tukang benerin peralatan rumah tangga, sampai pegawai sosial lainnya semua hanya dipanggil saat butuh aja dan dari satu sumber aja, biarpun aku masih belum jelas ini yayasannya apa. Nah kebayang nggak kalau hal kayak gini diterapkan di kota di indonesia? Wah pasti angka pencurian, penculikan, sampai penipuan bakalan jarang. Secara kan hanya ada satu penyedia layanan resmi dan jika ada yang lain sudah otomatis itu ilegal. Nah, di the sims setiap orang bisa menanam saham, atau istilahnya bisnisan lewat ngasih uang atau modal ke restoran atau tempat usaha. Jadi nanti tiap minggunya si penanam saham itu mendapat sejumlah royalty. Naik taxi di the sims juga gratis loh, tapi dengan catatan harus membayar bill setiap seminggunya.
Wah, enak juga ya kalau dipikir gimana kehidupan sebuah game bisa kita terapkan di kehidupan nyata. Tapi ya itu hanya mitos pemirsa, jangan diambil pusing. Biar bagaimanapun manusia tidak bisa menembus dunia game, begitu pula sebaliknya. Nah, gimana? Ada yang mau berfantasi lagi?
0 komentar:
Post a Comment