Ya, aku berimajinasi jika diriku sendiri adalah seekor kupu-kupu. Punya sayap indah yang bisa terbang, serta dilihat orang dengan decak kagum. Ia juga bebas terbang kemanapun, masuk rumah orang juga tidak masalah. Tapi tunggu dulu, apa semudah itu jadi seekor kupu-kupu? Absolutely tidak. Bayangkan, untuk menjadi seindah itu mereka memerlukan waktu dan harus dijungkirbalikkan dulu nasibnya. Betapa tidak, sebelum akhirnya jadi indah ia harus terlahir sebagai hewan yang dibenci banyak orang dan bahkan diberantas, ulat namanya. Setelah itu, harus berpuasa berhari-hari tanpa makan untuk menjadi kepompong. Perjuangan itupun belum berakhir, kadang ada anak-anak iseng yang sering mengambil kepompong untuk dibuat mainan. Tentu usaha menahan lapar mereka bisa gagal total. Namun, jika nasib memang berpihak, impian menjadi kupu-kupu yang indah akan tercapai.
Ini bisa jadi filosofi yang membangun bagi kita. Betapa seekor hewan yang kecilpun juga mampu berjuang sebesar itu. Sama halnya dengan kita, when a dream is created, there is no way to go than reach that! Percayalah dengan sedikit, bukan tapi banyak kerja keras kita akan mampu mewujudkannya. Terkadang kita pun harus dihampaskan sejauh-jauhnya ke belakang sebelum akhirnya bersiap melompat jauh ke depan. Kupu-kupu memang beruntung di satu hal, yakni bisa langsung terbang tanpa berlatih. Tapi kita? Apa kita lahir langsung bisa jalan? Tentu saja tidak. Butuh usaha keras untuk belajar berjalan. Sama halnya ketika suatu saat mimpi kita terwujud. Kita juga butuh belajar untuk mengolah perasaan kita, sehingga pribadi kita senantiasa tangguh dan tidak mudah berbesar hati. Sehingga, segala sesuatu yang kita lakukan akan berdampak baik bagi lingkungan, dan bukan sebaliknya. So, percayalah akan pelajaran dari kupu-kupu ini.
0 komentar:
Post a Comment