Berfikirlah Sebelum Bertindak

Sepiring nasi sayur tahu dan segelas air putih menemani sarapanku pagi ini. Setiap suapan yang masuk ke mulutku kurasa nikmat dan terpenuhi dengan rasa syukurku. Entah kenapa, di tengah-tengah makan aku teringat akan satu kisah. Kisah ini tak jauh-jauh dariku, pelakunya tak lain orang yang memang aku kenal. Sebut saja namanya Ikhsan, laki-laki yang sekarang usianya sudah 30 tahun lebih. Sekitar sepuluh tahun lalu, ia menjalin hubungan dengan seorang gadis, sebut saja Rena. Hubungan itu memang berlangsung lama dan keduanya sangat dekat, meskipun sebenarnya hubungan itu berjalan tanpa restu orang tua. Sampai akhirnya si Rena hamil di luar nikah.

Aku tidak terlalu mengerti bagaimana kelanjutannya, waktu itu aku masih berusia sekitar delapan tahun mungkin. Yang aku tahu, pada akhirnya mereka menikah. Ya yang namanya pasangan baru, pastinya hubungan yang terjalin makin menghangat. Hal ini berlangsung hingga anak mereka lahir, perempuan. Dua tahun kemudian, lahir anak kedua mereka yang juga perempuan. Setelah itu apa yang terjadi? konflik datang, dan bisa ditebak bahwa pasangan yang menikah tanpa suatu pertimbangan berarti akan mudah retak, bahkan hancur. Mereka berpisah, dan anak-anaknya? Sungguh aneh dan memilukan, anak kedua mereka entah dititipkan atau apalah, pada tetangga yang sebenarnya bukan siapa-siapanya. Awal-awalnya sih masih dikirimi susu dan dijenguk. Tapi lama kelamaan seperti sama sekali tidak diingat. Aku juga teringat, betapa mereka hampir berkelahi di rumahku waktu itu. Pada kenyataannya, sampai saat ini anak kedua mereka juga masih di rumah itu, sementara yang pertama tetap ikut ayahnya.
Yang jadi pertanyaan adalah, di mana letak pemikiran mereka? Apa tak terlintas sedikitpun di benak mereka, bahwa anak-anaknya terpisah? Dan apa sampai hati, dengan posisi mereka saat ini yang telah memiliki keluarga sendiri melupakan anaknya? Entahlah, mungkin waktu yang bisa menjawabnya. Aku sendiri tidak tahu sekarang jadi seperti apa, tapi mungkin hubungan mereka sudah sedkit membaik. Semoga.
Ya, aku jadi sadar betapa penting kita berfikir sebelum akhirnya bertindak dan sebelum akhirnya buah yang segar menjad busuk. Kalau sudah seperti mereka, apakah kita bisa melalui hidup dengan tenang? Jadi olok-olokan? Ya, sudah pasti. Kita memang tidak bisa menyalahkan keadaan yang terjadi, tetapi setidaknya sebelum hal buruk terjadi kita telah membangun benteng diri yang kuat. Kita harusnya mampu mengontrol suatu keadaan yang berjalan di luar proporsinya. Sehingga segalanya berlangsung balance di hidup kita. So, take care of your life. Membangun mimpi akan lebih indah dibanding merusaknya, meski memang tak dipungkiri akan lebih berat. Tapi mari kita sama-sama buktikan, bahwa ketika kita berhasil membangun mimpi, kita takkan percaya betapa hebatnya kekuatan kita.

0 komentar:

Post a Comment


up