Tanpa sengaja, aku teringat lagi akan gubuk kecil di pinggir jalan yang berjualan bensin eceran. Ya, memang angkot ini juga lewat, dan aku melihat lagi gubuk kecil itu masih sama seperti dulu. Gubuk itu terbuat dari bambu, dan atapnya dari plastik. Aku pernah membeli bensin di tempat itu dengan salah seorang temanku, sudah sangat lama memang. Tapi aku masih ingat, dulu aku sempat bertanya padanya apakah itu rumah atau hanya tempat berjualan. Temanku hanya menggeleng tanda tidak tahu. Waktu itu, aku sempat menengok memang ada kasur di dalamnya. Dan bahkan, di belakangnya pun juga ada kandang ayam. Tapi, apa itu rumah? Entahlah. Aku hanya melihat betapa mereka tetap bahagia dan menunjukkan sikap ramah. Rasa syukur, setidaknya itu terlihat dari rona wajah mereka. Ada ayah, ibu, dan juga anak yang masih mungil.
Seketika aku kagum, dan berfikir betapa banyak manusia yang sudah diberikan kecukupan berlebih masih merasakan kekurangan. Betapa banyak pejabat yang bergaji amat besar tapi masih harus korupsi untuk mengumpulkan pundi-pundi harta. Apa mungkin jika derajat makin tinggi, keangkuhan makin besar? Entahlah, yang jelas memang masih banyak orang baik di dunia ini. Orang yang bersyukur dalam kekurangan, ataupun orang yang senantiasa menengok ke bawah saat dalam posisi di atas. Iya, aku belajar banyak betapa rasa syukur mampu membuat hati tentram dan terhindar dari perbuatan buruk.
Sekian lama aku melamunkan hal itu, tanpa sadar aku sudah hampir sampai di gang rumah Sinta. Tentu saja lamunanku buyar, dan seketika aku turun dari angkot kemudian bertemu Sinta yang memang sudah menungguku di depan gang.
0 komentar:
Post a Comment