Hopeless

Aku masih mengharapmu
Biarpun tidak dan tidak dan tidak akan pernah terkabul
Aku akan selalu mengharapmu
Datang dan berucap janji layaknya yang telah kau ikrarkan saat itu
Aku.. kamu.. Bagai untaian kalung yang berpadu apik dalam kilauannya
Aku takkan berhenti berharap...

Siang itu matahari begitu terik, panas sekali rasanya. Aku mengipas-ngipas badan di depan kelas seraya menunggu guru kimia datang. Rambutku telah kuikat tinggi-tinggi saking panasnya, "Ya Tuhan" kataku dalam hati. Tak lama Bapak Idam, guru kimia datang dan aku langsung masuk kelas mendahului beliau.
Selepas pelajaran kimia, aku dan Marina sahabatku makan di salah satu kantin sekolahku. Aku memang suka makan di kantin satu ini, tidak hanya gara-gara makanannya yang enak, tapi juga ibu kantin yang ramah.
"Lit, kamu udah bikin PR matematika?"Marina mengawali obrolan di tengah-tengah makanku.
"Udah dong, lembur aku tadi malem, mana susah banget lagi"
"Aha! Nanti jangan lupa nyontek ya"
"Enak aja, kamu itu pasti kerjaannya cuma nyontekin PR. Aku udah capek-capek buat, eh gampang banget tinggal copy-paste."Aku agak menggerutu.
Kami mengobrol seperti biasanya, selain Marina, ada juga Isma dan Rana yang bercanda-canda bersamaku. Tak berapa lama kemudian, aku mendengar suara setengah berbisik di sampingku, suara Isma.
"Eh, ganteng itu masnya."Isma berbisik padaku dan aku seketika langsung menengok ke belakang. Aku kaget karena tidak sadar si cowok yang baru datang berjalan ke arahku sehingga mukaku terkena sikut cowok itu.
"Auw!"aku setengah berteriak kesakitan. Teman-teman juga kaget dan setengah berteriak.
"Lit, kamu nggakpapa? Aduh sorry Lit nggak bermaksud ngagetin kamu loh."Isma memegang pipiku yang masih nyeri.
"Dek, kamu nggakpapa? Maaf dek aku nggak lihat. Habisnya kamu tiba-tiba nengok sih dek, kan aku nggak lihat."
"Oh my God, memang ganteng kakak itu."kataku dalam hati."I..iya nggakpapa kak, maaf aku juga nggak tahu kak."wajahku sedikit bersemu merah, melihat senyumnya yang manis dengan rambut gaya animenya. Cowok itu berlalu dan aku lihat ia memesan makanan pada ibu kantin, tapi kemudian datang lagi ke tempat aku makan dan mengobrol bersama kami. Ia bahkan berkenalan dengan teman-temanku, dari situ aku tahu namanya kak Bayu.
"Hey dik, masih sakit pipimu ya? Siapa nama kamu?"tanyanya ramah.
"Enggak kok kak, namaku Lolita kak."aku menjawab sekenanya saja. Yang menyebalkan, kak Bayu malah kembali ngobrol asik dengan ketiga temanku dan tidak mnghiraukan aku. Obrolannya macam-macam, dari masalah sekolah sampai yang pribadi. Aku lihat kak Bayu memang ramah dan pandai bicara.
Bel masuk membuyarkan semua obrolan kami, bukan tapi mereka. Dengan setengah berlari kami bermaksud cepat-cepat masuk kelas, karena ada dosen killer setelah ini. Tapi Kak Bayu tiba-tiba memanggilku dan tidak aku sangka-sangka.
"Dik, aku boleh minta nomer kamu?"aku kaget, benar-benar kaget. Tapi aku berikan juga nomerku padanya dan pamit masuk ke kelas.
Sejak saat itu, Kak Bayu sering sms dan kami mulai sedikit mengenal satu sama lain. Aku rasa kami juga makin dekat, bahkan ia sering mengakuiku sebagai adiknya di depan teman-temannya. Bukan main bahagianya aku.
Siang ini Kak Bayu mengajakku makan bareng di kantin. Aku sengaja menghindari teman-temanku supaya tidak ketahuan. Aku menunggu cukup lama dan belum juga nampak batang hidung si Kak Bayu. Terbayang olehku senyum renyah dan candaan lucu yang akan kusambut sebentar lagi. Di samping meja kantinku ada segerombolan kakak kelas yang aku sendiri tidak tahu siapa mereka, nampaknya mereka juga demikian.
"Eh, tahu nggak si Bayu itu loh lagi naksir sama cewek."seorang kakak dengan setengah berbisik berkata pada segerombolan kakak kelas itu. Hatiku mulai berbunga-bunga mengingat akulah gadis yang saat ini sedang dekat dengan Kak Bayu.
"Oh, ya? Siapa?"yang lain menyahut dengan agak keras.
"Itu lo adik kelas, kelas sepuluh kayaknya."kakak dengan rambut diikat satu itu mulai memperjelas ciri-ciri gadis yang disukai kak Bayu. Dan aku mulai tersenyum simpul dengan perasaan makin menjadi.
"Oh, yang behelan itu? Rambutnya bergelombang kan?"deg, hatiku serasa diiris sembilu yang dalam, dengan perkataan kakak barusan yang tanpa tedeng aling-aling menebak si gadis. Tentu saja, itu bukanlah ciri-ciriku. Aku tidak pakai behel dan rambutku, ah jelas lurus.
"Iya-iya, namanya kalo nggak salah...Kirana! Iya Kirana.."kakak dengan rambut diikat satu itu terus memperjelas jati diri si gadis. Dan, Tuhan. Kenapa harus Kirana? Gadis yang seangkatan denganku, padahal akupun tidak tahu kalau ternyata kak Bayu kenal dan bahkan suka padanya. Perih mataku menahan air mata yang sudah hampir menetes.
"Oh, kemarin aku sih sempat memang lihat si Bayu nggambar wajah cewek, tapi ya aku nggak tahu itu Kirana bukan..."masih banyak kata-kata yang aku tidak mau mendengarnya lagi. Aku lebih memilih menyeret tasku dan berlari untuk segera menjangkau bis kota di depan gang sekolah dan pulang. Meski masih dengan isak tangis yang makin menjadi.
Dering HP tanda sms masih saja datang, dan aku tahu dari siapa itu. Tapi sedikitpun tidak ada gairah untuk membalasnya, bahkan membayangkan untuk membaca smsnya saja tidak mau. Aku hanya ingin berlari dan menghindar dari semua ini. Aku pun tahu, memang hal bodoh saat aku dengan percaya diri mengira bahwa akulah yang disukai oleh kak Bayu.
Pagi ini, aku bangun dengan mata yang bukan main sembabnya. Aku hampir tidak bisa membuka mata saking besarnya bengkak ini. Si mbok yang menyiapkan seragamkupun juga kaget melihatnya.
"Loh, neng kok matanya seperti itu to? Neng sakit ya?"
"Enggak kok mbok, cuma kurang tidur aja. Tugasnya banyak sih mbok, ini mau tak kompres saja mbok biar agak kecil."simbok hanya mengangguk dan pergi menyiapkan sarapan. Aku hanya bengong di depan cermin melihat wajahku yang bengkak seperti disengat lebah di kedua mataku. Astaga!
Tepat di depan gerbang aku melihat sosok itu lagi, tapi sungguh tidak sedikitpun terlintas untuk melihat bahkan menyapanya. Dia, memakai jaket yang sewarna dengan jaket yang aku pakai sekarang. Aku tahu dia berusaha mengejarku, tapi aku memilih berlari menuju kelas. Aku kaget karena tanganku ditarik ke belakang oleh seseorang, iya kak Bayu.
"Dik, kamu kenapa?"iya bertanya dan dengan tajam menatap mataku. Aku hanya diam, sangat malas untuk melihat dan berbicara dengannya. Aku memilih untuk tidak menghiraukannya dan masuk kelas.
Berhari-hari aku tidak melihat kak Bayu, entah karena dia tidak berangkat atau aku saja yang terlalu pintar menghindar. Aku juga sudah tidak pernah menghiraukan smsnya lagi, entahlah kenapa bisa sesakit ini perasaanku. Dan ternyata Marina membaca gerak-gerikku selama ini.
"Lit, kamu kenapa sih? Kok beberapa hari ini jarang banget cerita, pendiem banget."
"Nggak papa Rin, cuma capek aja."aku sekenanya menjawab.
"Ah, bohong kamu. Kita sahabatan dari kecil, apa masih bisa kamu nyembunyiin sesuatu dari aku?"aku memang tidak bisa bohong pada sahabatku satu ini. Aku ceritakan semuanya mengenai hubunganku dengan kak Bayu dan perkataan kakak kelas.
"Ya ampun, Lita. Jadi diem-diem kamu itu suka sama kak Bayu?"
"Iya sih Rin, tapi aku mending menghindar dari dia. Nggaktau kenapa rasanya sakit banget."aku hampir saja menitikkan air mata. Marina memelukku erat.
Entahlah, aku tidak begitu yakin dengan perasaanku. Tapi yang aku tahu, aku sudah jatuh cinta padanya sejak pertama bertemu.
“Dik..”suara itu tiba-tiba memanggilku. Belum sempat aku menoleh Marina sudah beranjak dan menyeretku pergi.
“Ayo Lit, aku laper nih..”aku hanya diam saja dan tidak memperhatikan bagaimana ekspresi wajah Kak Bayu.
***
Di kantin, aku hanya diam dan melamun. Aku tahu, Marina menatapku dari tadi. Tapi, ah bodo amat. Tiba-tiba Hpku berdering, tanda sms masuk. Dari Kak Bayu!
Dik, kenapa beberapa hari ini kamu menghindar dari aku?
Belum sempat aku membalasnya, satu sms lagi masuk.
Kenapa Dik? Kamu nggakmau tmenan sama kakak?
Deg! Dia benar, selama ini memang kita temenan. Bukan pacaran, dekatpun juga baru. Terlalu naif kalau aku menganggap dia menyukaiku. Aku harus segera membalas smsnya.
Enggak Kak, aku Cuma kurang mood beberapa hari ini
Nanti plg brg kakak ya?
Aku kaget membaca balasan darinya, dia mengajakku pulang bareng. Tapi tanpa pikir panjang langsung saja kubalas “ya”
“Lit, ntar siang anterin aku ke mall ya. Sekalian kamu refreshing, kan kamu lagi badmood gitu.”Marina mengagetkanku yang sedang mengetik sms.
“Eh, apa Rin?”aku pura-pura tidak mendengar.
“Aduh, dengerin dong. Nggak usah lagi ya mikirin si Bayu itu, udah jelas-jelas dia itu nggak ada rasa sama kamu. Nanti temenin aku ke mall aja deh, aku lagi suntuk banget nih.”
“Aduh, aku nggak bisa Rin. Aku mau diajak pergi sama mamaku. Besok aja gimana?”aku berbohong sekenanya. Entahlah, tapi rasanya aku tidak boleh menyia-nyiakan ajakan Kak Bayu.
“Ya udah deh, nggak jadi. Tapi besok bener ya? Soalnya aku juga mau nyari baju.”
“Iya deh, gampang pokoknya.”
***
Aku sengaja pulang duluan demi menghindari Marina. Bukan apa-apa, tapi rasanya tidak mungkin Marina melihatku pulang bersama Kak Bayu sedangkan aku sudah bohong padanya. Sedikit berlari, aku mencari-cari dimana Kak Bayu. Biasanya kan dia memarkir sepedanya disini, tapi sekarang tidak ada.
“Hey, cewek. Sendirian aja nih”suara yang familiar memanggilku dari belakang. Ya Tuhan, senyumnya manis sekali.
“Cewek. Sini duduk belakang abang ganteng.”
“Ih, ganteng darimana bang?”padahal memang ganteng dalam hatiku.
Aku membonceng di belakang Kak Bayu dan dia mulai mengayuh sepedanya. Ya Tuhan, aku benar-benar tidak bisa menahan ekspresi cengar-cengir tanda bahagia. Sepanjang perjalanan sesekali dia mengajakku mengobrol hal-hal yang ringan dan membuat senyumku makin mengembang.
Kami melewati hamparan sawah ketika Kak Bayu menghentikan sepeda. Dia mengajakku duduk di salah satu gubuk sawah yang aku rasa memang merupakan tempat strategis untuk melihat seluruh pemandangan sawah dan para petani yang sibuk mencangkul. Ada yang sendirian dan ada juga yang ditemani sang istri.
“Sini duduk. Aku lagi pusing ni, cewekku marah- marah terus dari kemarin.”
Sesaat jantungku berhenti. Jadi dia sudah punya pacar? Berarti selama ini aku hanya mengharapkan cinta seseorang yang sangat mustahil akan berbalas? Lalu siapa gadis yang beruntung itu? Mungkinkah Kirana?
Nafasku sesak
Tidak kusangka selama ini
Akulah yang terlambat
Terlambat mengenalmu dan berniat mencuri hatimu
Akankah ada tempat bagiku?


To be continued…

0 komentar:

Post a Comment


up